Rabu, 13 Maret 2013

Astaga, lagi-lagi ditemukan kasus mutilasi. Gue agak kaget dengan maraknya kasus mutilasi. Belum lama kasus Benget naik ke permukaan, sekarang yang di Ancol. Gue sempet baca-baca kasusnya Benget, karena cemburu. Terus ngebunuh, terus masukin ke freezer biar darahnya beku dan blah ga tega nulisnya. Tapi kalau gue tarik jauh kebelakang, bukan karena cemburu, tapi karena emosi dia gak stabil. Entahlah gue sotoy apa gimana ya, tapi buat gue emosi itu mencerminkan intelegensi seseorang. Orang yang emosiannya tingkat tinggi, seringkali bertindak tanpa memikirkan akibatnya dalam janga panjang. Contoh aja, karena kesel, dia nonjok, terus masih emosi, dia gebukin, akhirnya meninggal dari meninggal, emosi yang tadinya meluap-luap seketika turun drastis ke titik nol, timbulah panik. Dari panik, orang tanpa pikir panjang mutilasi. Dengan pikiran, bisa menghilangkan jejak gitu? Ngga salah besar. Gue tidak menyarankan memutilasi, tapi membunuh aja udah dosa besar, cepat atau lambat pasti akan ada hukumannya. Ok mungkin hukumannya bukan sekedar di penjara, tapi karma? Inget ga kasusnya yang anak pelajar dibunuh di salah satu tempat gaul di Jakarta? Tau kan ceritanya kalau di tanggal yang sama, tapi di tahun yang berbeda Ayahnya membunuh. Yap. Karma does exist.
 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar